York, Kota Tua yang Tetap Muda

Kompas.com - 03/08/2008, 11:40 WIB

BEBERAPA teman menyarankan untuk mengunjungi kota York, sekitar 2-3 jam naik kereta api ke utara London, Inggris. Mereka menyebut kota itu indah.

Lebih dari sekadar indah, kota itu memberi pengalaman bagaimana kota berumur lebih dari 1.900 tahun mampu mengakomodasi perubahan kebutuhan masyarakat urban penghuninya.

Menjelang akhir Juli ketika kami mengunjungi York, cuaca sangat bersahabat. Kami beruntung tiba di sana tengah hari karena pada pagi hari hujan lebat sempat turun 20 menit.

”Matahari? Di mana di Inggris ada matahari,” kata sopir taksi yang membawa kami dari stasiun kereta api ke tempat penginapan. Padahal, siang itu sinar matahari cerah walaupun di langit awan gelap menggantung di sana-sini.

Kami menginap di bagian selatan kota. Segera setelah memasukkan koper ke kamar bergaya Victoria, kami berjalan kaki menuju pusat kota.

Daya tarik York berada di kawasan yang dikelilingi oleh tembok batu hitam dari abad pertengahan berbentuk persegi yang panjangnya sekitar 2,5 km.

Bangunan di dalam tembok berasal dari masa yang kurang lebih sama dengan bangunan tembok yang mengelilingi. Bagian kota ini tetap berfungsi seperti kota modern meskipun wadahnya adalah bangunan kuno.

Bangunan rumah tinggal, perkantoran, pertokoan, dan bangunan bersejarah menyatu di sana, menjadikan York kota yang unik.

Suasana kota membawa kembali ke masa lalu dengan banyak bangunan bergaya Georgia, tetapi semua kebutuhan masyarakat kota ada di sana.

Di daerah sekitar katedral bergaya gotik terbesar di Eropa Utara, York Minster, merupakan kawasan pejalan kaki yang bahkan pengendara sepeda pun tidak boleh melintas.

Ini kawasan yang paling menarik turis ke kota yang dinobatkan sebagai kota favorit Eropa. Selain rangkaian toko yang menjual produk lokal, juga terdapat jaringan toko dan tempat makan yang pasarnya dunia, mulai dari yang asal Inggris seperti Marks & Spencer, Boots dan Pizza Express, hingga yang internasional seperti H&M dari Swedia dan tentu saja Starbucks.

Di lokasi yang tidak berdekatan dengan pertokoan itu terdapat pasar tradisional Newgate Market. Sayang, pada hari Minggu hanya beberapa gerai yang buka. Tetapi, di depannya terdapat lapak-lapak yang menyediakan aneka jualan, termasuk makanan. Tempat ini juga selalu menarik orang setempat maupun turis.

Di sekitar situ juga terdapat tempat-tempat bersejarah yang masih terus dipelihara. Jorvik Viking Centre berada dalam jarak berjalan kaki dari York Minster, rumah mandi dari masa Romawi, York Castle Museum, dan Clifford’s Tower.

Jadi, kalau kaki sudah lelah diajak berjalan, selalu bisa berhenti di restoran, pub, atau kafe yang bertebaran di sana.

Hantu

Tempat menginap kami berada di bagian selatan dan di luar tembok tua. Dari tempat kami menginap menuju ke pusat kota, harus melalui gerbang Micklegate Bar. Tiga gerbang lainnya adalah Bootham, Monk, dan Walmgate.

Di atas Micklegate Bar terdapat museum. Kami naik tangga batu di sisi gerbang itu untuk masuk ke museum. Tetapi, langkah kaki terhenti di depan museum karena di pintu museum terpampang tawaran untuk berfoto dengan latar depan tombak dan kepala kita akan tampil seperti terpancung dan tertusuk di atas tombak.

Sejarah Micklegate Bar memang cukup seram. Seperti tertulis di plakat di dinding gerbang, di sini pada masa lalu kerap dipancangkan bagian tubuh atau kepala orang-orang yang memberontak kepada penguasa.

York sebagai kota yang berulang kali mengalami penaklukan berbagai bangsa, menyimpan sejarah yang berdarah-darah.

Pada tahun 71 M Romawi menaklukkan orang Celtic di sana dan mendirikan kota Eboracum yang berada pada percabangan Sungai Ouse dan Foss. Pada abad ke-7 namanya diganti menjadi Eoferwic dan menjadi kota utama Anglo Saxon dengan rajanya Edwin dari Northumbria, dan dua abad kemudian menjadi Jorvik ketika orang Viking mengambil alih.

Pengaruh Viking di kota itu antara lain tampak pada nama jalan yang belakangnya memakai kata gate. Kata ini berasal dari bahasa Viking, gata, yang artinya jalan.

Tak mengherankan bila kota itu menawarkan wisata penjara bawah tanah, sementara tur hantu ditawarkan setidaknya empat perusahaan.

Bebek

Enggan masuk ke museum, saya memutuskan menelusuri tembok tua. Saya bisa mengerti mengapa tembok ini menjadi salah satu bagian menarik York. Pemandangan dari sana ke arah tengah kota memang indah. Apalagi taman kota dipenuhi bunga berwarna cerah pada musim semi lalu.

Dari Micklegate Bar pilihan jalur ke utara di seberang stasiun kereta api York membawa ke Sungai Ouse. Di sepanjang tembok tersedia beberapa bangku panjang untuk beristirahat atau menikmati pemandangan ke arah kota.

Dari atas tembok, kami melihat seekor induk bebek dengan 12 anaknya berjalan di halaman perkantoran di sisi dalam tembok. Tak berapa lama kami mendengar suara orang berteriak-teriak.

Ternyata itu berasal dari sejumlah remaja yang sedang menyemangati induk bebek dan anak-anaknya tadi menyeberang jalan. Mereka selamat menyeberang jalan raya yang ramai kendaraan.

Tak lama kami kembali mendengar suara orang-orang berteriak. Dari atas tembok kami melihat kelompok remaja tadi yang kini sudah bertambah dengan beberapa orang dewasa tengah membantu rombongan bebek tadi menyeberang jalan lagi, kali ini di bagian luar tembok kota. Mereka mengarahkan bebek-bebek itu menuju ke Sungai Ouse.

Saya lalu membandingkan dengan suasana Jakarta. Jangankan pada hewan, berapa banyak pengguna jalan, baik pengemudi kendaraan maupun pejalan kaki, yang peduli pada keselamatan sesama pengguna jalan?

Dan bicara tentang turisme, orang yang baru datang sehari pun akan sulit tersesat di York. Di berbagai tempat tersedia informasi tentang kota. Peta kota pun cukup rinci menggambarkan bukan hanya nama jalan, tempat belanja, tempat bersejarah dan museum, tetapi juga WC umum, pusat informasi pengunjung, dan tempat parkir. Kalau masih butuh informasi spesifik, ada petugas berjaket merah yang dengan ramah akan membantu.

Seandainya kota tua Jakarta juga bisa difungsikan sebagai kawasan yang memenuhi kebutuhan masyarakat urban tanpa merobohkan bangunan tua di sana.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau